AC Milan harus menerima kenyataan pahit pada pertengahan Desember 2025 ketika Santiago Gimenez dipastikan menjalani operasi pergelangan kaki. Cedera yang terus kambuh membuat penyerang asal Meksiko itu tak lagi mampu bertahan hanya dengan terapi biasa.

Keputusan operasi diambil demi mencegah kondisi yang lebih parah di masa depan. Situasi ini menjadi pukulan besar bagi Rossoneri. Saat itu, Gimenez merupakan satu-satunya striker murni yang tersedia dalam skema Massimiliano Allegri. Ketergantungan Milan terhadapnya begitu tinggi, terutama di tengah jadwal padat Serie A dan kompetisi Eropa.
Absennya Gimenez otomatis memaksa Allegri memutar otak mencari solusi darurat di lini depan. Lebih dari sekadar kehilangan pemain, Milan juga kehilangan titik tumpu serangan. Gimenez dikenal sebagai penyerang pekerja keras dengan insting gol tajam. Cedera ini membuat keseimbangan tim terganggu dan menjadi ujian besar bagi kedalaman skuad Milan di paruh kedua musim.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Bermain di Bawah Rasa Sakit yang Terpendam
Santiago Gimenez akhirnya membuka cerita di balik keputusannya menjalani operasi. Ia mengakui telah bermain cukup lama sambil menahan rasa sakit di pergelangan kakinya. Awalnya, rasa nyeri itu masih bisa ditoleransi, namun seiring waktu kondisinya semakin memburuk.
Dalam pengakuannya, Gimenez menyebut rasa sakit itu perlahan menggerogoti performanya. Ia tidak pernah bisa bermain dalam kondisi seratus persen bersama AC Milan. Meski begitu, sebagai pemain profesional, ia tetap memaksakan diri demi membantu tim.
Keputusan tersebut kini ia sesali. Setelah operasi dijalani, Gimenez memilih untuk fokus menatap masa depan. Ia merasa proses pemulihannya berjalan positif dan motivasinya kembali tumbuh. Baginya, berhenti sejenak adalah harga yang harus dibayar demi karier yang lebih panjang.
Baca Juga: Man United Dapat Kesempatan Gaet Rafael Leao dari AC Milan
Cedera Lama yang Diabaikan Demi Bermain

Masalah engkel yang dialami Gimenez ternyata bukan cedera baru. Ia mengungkapkan bahwa rasa sakit tersebut sudah muncul sejak sebelum Gold Cup. Namun, naluri kompetitif membuatnya tetap bermain, meski tubuhnya memberi peringatan.
Gimenez mengakui bahwa keputusan itu adalah kesalahan. Cedera ringan yang diabaikan akhirnya berubah menjadi masalah serius karena intensitas pertandingan yang tinggi. Setiap laga memperparah kondisinya hingga operasi menjadi satu-satunya jalan keluar.
Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga baginya. Gimenez menyadari bahwa mendengarkan tubuh sendiri sama pentingnya dengan semangat bertanding. Dalam sepak bola modern yang menuntut fisik ekstrem, keputusan tepat waktu bisa menentukan panjang pendeknya karier seorang pemain.
Harapan Kembali dan Pelajaran bagi Rossoneri
Kini, fokus utama Santiago Gimenez adalah pemulihan total. Ia berharap dapat kembali merumput dalam beberapa minggu ke depan dan membantu AC Milan di fase krusial musim ini. Dukungan tim medis dan kepercayaan klub menjadi sumber semangat baginya.
Bagi AC Milan, absennya Gimenez menjadi pengingat pentingnya kedalaman skuad. Ketergantungan pada satu striker terbukti berisiko besar. Situasi ini bisa menjadi bahan evaluasi manajemen untuk perencanaan jangka panjang.
Di balik cedera dan rasa sakit, kisah Gimenez menunjukkan sisi manusiawi sepak bola. Di level tertinggi, pemain sering kali bertarung melawan tubuhnya sendiri. Kejujuran Gimenez menjadi cermin bahwa keberanian untuk berhenti kadang justru menjadi langkah paling berani dalam karier seorang atlet. Simak dan ikuti terus informasi sepak bola terbaru secara lengkap hanya di football-ua.com.
